Music

Spirit of Music

Ketika sedang menulis atau mengedit naskah, kadang-kadang saya tidak bisa melepaskan diri dari musik. Ada pro dan kontra ketika saya berurusan dengan musik saat sedang menggarap naskah. Pro-nya, mood saya menjadi lebih ringan dan terkadang mengusir kejenuhan dan rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang. Kontra-nya, terkadang, karena musik mempengaruhi mood saya, apa yang saya tulis seolah-olah kehilangan jiwa ketika saya membaca ulang dengan tidak sambil mendengarkan musik itu. Yes, music changes everything.

Itu sebabnya, belakangan ini saya mulai berlatih untuk tidak terlalu terpengaruh pada mood musik ketika sedang mengurus naskah. Saya membutuhkan musik sebagai pembangkit mood dan inspirasi. Tapi saya juga berjuang agar ada atau tidak ada musik itu, inspirasi yang saya dapat akan terus bertahan dan menjadi nyata di naskah-naskah itu. Tidak ada lagi alasan ‘naskah ini mati’ karena saya membacanya tidak sambil mendengarkan musik. I want to attach the feeling from music to scripts, but it’s kinda hard.

Anyway, saya tidak ingin membahas masalah itu sekarang. Saya ingin memamerkan beberapa koleksi musik yang biasa saya dengarkan saat mengetik cantik. Sebelumnya, jangan kaget kalau melihat genre yang malang-melintang dan kontradiktif, karena pada dasarnya, saya menyukai beberapa jenis musik.

Dan, list ini bukan urutan favorit.

1.Of Monsters and Men
Saat menulis Antithetique (dan sekuelnya yang masih stuck sampai sekarang), saya sering mendengar musik band asal Islandia ini. Mulai dari theme song mereka untuk The Hunger Game (sekuel ke berapa? Saya lupa) yang berjudul Silhouettes (yang menurut saya super duper keren dan cocok sekali dengan tema-tema heroine), Crystal Eyes, Yellow Light, dan I Off The Storm dari album baru yang sering saya dengar ketika membuat Paracosm. Kenapa saya menyukai lagu-lagu mereka? Well, they drag me back to nature, I think. Seperti masuk ke dalam hutan belantara yang bersahabat dan sejuk dengan ritme yang membangkitkan semangat dan terkadang mistis. Sounds magic, right?

2.Coldplay
Lagu-lagu seperti Atlas, Yellow, Always In My Head, The Scientist, Strawberry Swings, Ink, dsb terkadang menjadi tema general saat saya hanya simply ingin mendengarkan musik. Mereka tahu bagaimana membuat lagu yang ga mungkin kedaluarsa di jaman apa pun, tetap indah dengan segala suara-suara magis di setiap instrumennya, lirik yang menyayat-nyayat namun terdengar fun di telinga. Jenius!

3.30 Seconds To Mars
Halooooooo! Jared! Sepertinya saya terkena sihir ketika pertama kali mendengarkan album mereka yang berjudul This Is War. Hentakannya yang membabi buta ternyata ga sampai menghancurkan gendang telinga saya ketika mendengarkannya dengan Sennheiser PX 100ii favorit saya. Which is, good. Cool. Saat saya membutuhkan nuansa yang mencekam dan penuh adegan lari-lari, saya segera memutar playlist khusus mereka. Lagu favorit saya adalah Hurricane, City of Angels, Bright Light, dan Up In The Air.

4.Il Divo
Sudah saya bilang, it would be a crossed genre ketika saya membahas musik. Personally I created a story yang cukup biased dengan lagu-lagu yang mereka nyanyikan. Seperti Pour Que Tu M’Aimes Encore, Falling Slowly, Ave Maria, Amazing Grace, dan I Will Always Love You. Kenapa saya menyukai Il Divo dan bahkan sampai membuat cerita dengan tema lagu-lagu mereka? I don’t know. Tiba-tiba aja saya kepingin mendengar Pour Que Tu M’Aimes Encore, lalu konsep cerita mulai fix dan ujung-ujungnya saya suka dengan lagu-lagu mereka yang lain. Beautiful.

5.Michael Buble
Sama seperti kasus Il Divo, tiba-tiba saya kepingin mendengar Home. Saya mendengarkan Buble untuk pemanasan di editing pagi karena lagu-lagunya fun dengan tempo yang lembut. Cantik. Keren. Apalagi suara vokal Buble yang lembut! Ga ada tandingannya deh! (Eh, tapi saya juga suka suara Sebastien Izambard-nya Il Divo 🙂 )

6.Imagine Dragons
Nah! Satu lagi yang bisa bangkitin emosi dan semangat saat sedang menulis. Imagine Dragons! No doubt! Tip Toe, Shots, Gold, Radioactive, Demons, Bleeding Out, Selene dan lagu-lagu lainnya kadang bisa membuat saya betah menulis dan fokus pada layar sambil nyanyi-nyanyi ga jelas. Well, they have my credit untuk naskah yang belum berhasil saya terbitkan (tentang modern life yang diangkat dari kisah Disney Princesses).

7.The Script
Ada satu lagu yang paling bikin saya berbunga-bunga ketika mengetik adegan romantis di salah satu naskah, judulnya Man on Wire. Bukan adegan seorang pria yang berjalan di atas tali seperti vidclip lagu ini, tapi… jauh dari gambaran itu. Saya bahkan berangan-angan membuat video lagu ini sesuai dengan adegan romantis yang saya ketik. Rasanya seperti melihat kedua tokoh utama sedang terbang dan menikmati kebebasan mereka yang penuh dengan kebersamaan. Di lirik ‘I’m the man on a wire on a wire’, entah kenapa saya merasa semua unsur di lagu itu terdengar begitu seksi di telinga saya. Lol!

8.John Mayer
Selain Coldplay, John Mayer juga sering saya dengar tanpa alasan khusus. Musiknya enak didengar di telinga, terasa ringan dan membuat saya rileks. Beberapa lagu juga menjadi tema di naskah saya, seperti A Face To Call Home, Stop This Train, Friends Lover or Nothing, dan Born and Raised.

9.Ost. Pride and Prejudice
Ini yang paling beda dari yang lainnya! Semua diawali setelah saya membeli novel Pride and Prejudice, menonton movie-nya yang dibuat tahun 2005 dan tergila-gila pada Mr. Darcy & Matthew Mcfaddyen. Setelah itu, saya mulai hunting soundtracknya karena saat berkali-kali menonton movie-nya, saya mendengar nada-nada yang cantik dan keren di beberapa adegan. Dawn, Your Hands Are Cold, Liz On Top Of The World, Secret Life of Daydreaming, Stars and Butterflies adalah komposisi favorit saya. Mengapa saya suka dengan instrumental ini? Simpel. Karena saya merasa menjadi Elizabeth Bennet saat mendengarnya. Lol! Dan seperti ada sinar matahari yang hangat ketika mendengar Dawn. Yah, memang maksudnya begitu sih.

10.Some pop and RnB songs
Conqueror, Model, Wildest Dream, Jealous, You’ll be In My Heart, The Way That I Lived, Superman, Long Drive, Hello World dan beberapa lagu lainnya terkadang menjadi theme untuk adegan tertentu di naskah saya. Tapi saya juga sering mendengar lagu-lagu ini untuk sekedar mengisi kekosongan. Tapi yang sering terjadi, saya menjadi kurang konsen mengetik naskah karena ikut menyanyikan lirik-lirik yang saya suka.

Yeap, itulah beberapa lagu favorit saya yang sering menemani saya ketika sedang asyik dengan ide-ide di kepala. You may try to listen them kalau-kalau pasokan playlist anda sudah masuk ke tahap menjemukan.
Cheers!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s