Life

Reborn

Halo!

Pasti kalian sudah berekspektasi : dia bakal bilang : ‘Halo, sudah lama saya tidak eksis di sini. Maaf, sibuk. Tapi akhirnya saya kembali kan?’. Sesuai imajinasi kalian, saya memang akan mengatakan itu tapi dengan format yang beda. Ehem.

Halo! Sudah lama saya tidak eksis di sini. Beneran sibuk. Tapi syukurlah, kehadiran saya kembali ke dunia wp bukan ditandai dengan adanya blog baru. Saya sudah tobat dari koleksi blog nganggur koplong yang cuma disinggahi kalo lagi nggak sibuk dan ditinggali dengan blok baru kalo lagi nggak sibuk setelah berabad-abad vakum.

Yang baru dari sini cuma…. theme-nya. Saya bosan dengan hitam-hitam gak jelas itu. Tapi yang ini juga agak nggak jelas.

Dan… yang baru selanjutnya adalah sebuah determinasi, keinginan untuk meluangkan waktu bercuap-cuap meskipun dilanda kesibukan (yang saya yakin, itu mustahil banget…).

Anda boleh pesimis. Saya pun jauh lebih pesimis. Tapi, semesta terkadang bisa mempermainkan kehidupan seseorang yang sudah direncanakan dengan sangat pesimis.

Oke. Ketika menulis ini, saya teringat dengan kalimat yang baru saya ucapkan ke teman saya via aplikasi LINE : hidup memang tidak mudah, Sayang.

Akhir-akhir ini saya kalut. Liburan panjang tapi batin hampa. Mau ngapa-ngapain ga minat. Maunya cuma makan-tidur-makan-tidur. Lalu, di detik-detik penghabisan liburan, saya baru ngerasa mau ngapa-ngapain aja. Nulis cerita, ngetik di blog, baca Supernova, baca LOTR, nonton Mr. Mpak, nonton macem-macem. Awalnya saya nggak tahu kenapa fenomena ini bisa terjadi, tapi setelah saya telaah dengan imajinasi ngawur, saya rasa… semua ini terjadi karena HAMLET.

Omong-omong, ah sial. Baru semangat ngetik di blog, tiba-tiba di-WA ada tambahan jurnal yang harus dibuat.

Bener, kan, insting saya? Pesimis ini datang bukan tanpa alasan dan perasaan yang tidak jelas.

Oke, sambil menunggu konfirmasi, mari cuap-cuap sebentar.

Jadi, saya membeli novel Shakespeare yang judulnya Hamlet. Saya antusias karena tampilan hard-covernya dibarengi dengan harga yang relatif murah. Sebagai insan yang mengaku antusias dengan seni-seni baca novel, setelah berhasil membeli karya klasik ngetop nan memuaskan di tahun lalu, Pride and Prejudice, saya semakin mantap menimang Ko Hamlet. Another classic story. Biar ngga malu-maluin anak cucu waktu mbois tentang hobi baca. Gan-gan juga baca Shakespeare guys! Sastrawan wajib baca Shakespeare…

Lalu… masih di dalam mobil teman, saya membuka plastik pembungkusnya dan mulai membaca dalam kegelapan. Setidaknya, saya harus tau sedikit di dalamnya, begitulah pikir saya. Maksudnya cuma teaser, biar nanti pas baca di kamar, jadi semakin semangat karena sudah ada bayangan bakal menghadapi tulisan macam apa.

Lalu… saya mulai berasa disamber gledek.

“Astaga. Gua salah beli buku.” kata saya ke teman saya yang lagi nyetir. Sebut saja Bunga.

Saya lupa dengan reaksi bunga. Kayaknya dia cuek-cuek aja karena matanya fokus dengan pemandangan di depan. Harusnya saya bersyukur karena dia fokus ke depan, bukan ke saya dan buku kesalahan.

“Ini mah skenario, bukan novel,” kata saya lagi. Entah ditanggapi atau tidak, saya yakin dia mendengar kekecewaan saya. Tapi kekecewaan terbesar adalah di dasar lubuk hati yang paling dalam.

UANG GUAAAAAA~~~~!!!!

Ibarat sedekah ke toko buku pakai buku terjemahan….

Tapi saya bener-bener mati kutu. Beneran kayak kesamber gledek. Saya cuma diam, menyesal, dan berharap semoga penyesalan ini segera berakhir. Saya nggak suka menyesal berlama-lama, jadi saya putuskan akan tetap membaca buku itu sampai tamat.

Sampai di rumah, saya mencoba melakukan teaser lagi. Hm… not too bad… Lalu saya mulai membacanya… dan terkadang menjadi ritual wajib sebelum tidur. Murni bukan karena saya senang dengan buku itu, tapi karena saya merasa, setelah membacanya, aura ngantuk datang lebih cepat dan membuat saya bisa tidur nyenyak tanpa pertolongan sosok panadol (kadang-kadang saya suka menjadi panadolism kalo sudah pusing dan ngga bisa tidur).

Kadang-kadang, saya hanya membolak-balik halaman buku itu. Saya tidak bisa menikmati gaya tulisannya. Rasanya diterjemahkan dari bahasa kuno alpha ke bahasa kuno beta. Sama-sama primitif dan membuat manusia modern seperti saya mudah keki dan angkat alis : ‘what the heck?’

Untungnya, penyesalan itu cepat minggat dari hati saya. Meskipun masih ada serpihan-serpihan yang tersisa, karena biar bagaimana pun, kondisi finansial saya sedang good but not too good, tapi saya nekad beli buku itu bersama buku cerita tentang kucing. Sesuatu yang sangat jarang saya lakukan ketika nongkrong di toko buku.

Lalu… efeknya mulai terasa ketika liburan. Saya sudah bertekad melanjutkan ide yang sudah berkonsep, tapi ternyata saya nggak bisa ngapa-ngapain. Beberapa hari kemudian, saya ungsikan buku Hamlet ke rumah teman saya, dengan harapan rak buku saya sedikit bernapas lega setelah berlama-lama memangku sekian banyak buku yang berat (Hamlet turut menjadi kontributornya). Lalu…. perasaan plong itu muncul.

Tiba-tiba, semesta kayak buka jalan dari kebuntuan yang saya alami. Ada film-film yang nikmat ditonton, ada novel LOTR milik teman saya yang siap dibaca sampai lupa waktu, lalu… saya dipertemukan pada link download novel gratisan milik pengaran terkenal Indo. YEHET! Waktu saya membacanya…. saya tersesat ke dimensi yang semestinya.

Singkat cerita, saya menyesal karena liburan ini terlalu singkat. Saya belum siap kembali ke lubang buaya karena tiba-tiba di kepala saya bermunculan konsep tulisan untuk dieksekusi di blog ini. Saya belum siap kembali ke lubang buaya berlabel Hogwarts karena saya belum menonton Mr. Mpak (kapan-kapan saya jelaskan si Mr. Mpak di sini). Saya masih ingin menulis tentang ide naskah, siapa tahu kali ini diterima penerbit.

Hidup memang tidak mudah. Ketika kita menginginkan terjadi sesuatu, mereka membuatnya diam dan membosankan. Ketika kita menginginkan kediaman dan kebosanan, mereka melakukan sesuatu.  Seperti kasus Hamlet yang aneh. Saya kira, buku itu bisa membantu memberikan inspirasi, tapi rupanya hanya sebatas hiburan yang lucu karena ekspektasi saya berbanding terbalik dengan kenyataan. Bukan maksud saya menghina karya Shakespeare, tapi… serius deh, penerbitnya nyebelin banget karena bikin terjemahan kayak gitu! Saya kan bukan kaum priyayi….

Sekian dulu tulisan ini. Saya juga ngga tahu kenapa jadi melantur seperti ini. Ada film Star Wars di depan saya saat ini, Anakin Skywalker emang ganteng.

…. lalu, apa hubungannya sama judul post ini? Reborn. Saya berharap, tulisan ini menjadi awal dan pemicu semangat saya untuk tetap menulis di blog di hari-hari selanjutnya… lahir kembali semangat itu… meskipun agak mustahil.

Salam pesimis.

S.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s