Book, Mind-ology

Petir

Ini kali pertama saya menulis resensi buku di blog–atau mungkin sudah pernah sebelumnya tapi saya lupa?

Dan… sebetulnya, nggak bisa disebut resensi juga karena semua ini hanya opini saya pribadi yang saya tuliskan tanpa peduli dengan kaidah penulisan resensi ala orang-orang keren di blog lain. Saya bahkan lupa gimana kaidah penulisan resensi versi pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dulu… Pokoknya saya mau nulis kesan-kesan saya selama membaca sebuah buku. Titik.


Buku itu berjudul Supernova Petir karangan Dewi Lestari. Yaahhh… supernova lagi, supernova lagi. Kalian mau bilang gitu kan? Tapi ini adalah pengalaman perdana saya memegang buku Dee. Beneran.

Sebagai orang yang ngaku demen baca novel, tapi baru di tahun 2016 ini saya membaca novel berat yang kata orang-orang ‘hebat’ ini. Baru sekarang, setelah tahun-tahun sebelumnya booming dan beberapa orang kesaksian telah mencapai aktualisasi diri setelah membaca Supernova. Baru sekarang, setelah di tahun 2004 buku ini lahir. Astaga. Saya memang si ratu telat. Apa-apa serba belakangan kalo urusan favoritism. Ketinggalan jaman. Apa yang ngetren saat ini, mungkin baru saya suka sepuluh tahun mendatang. Satu dekade lebih mundur. Kasihan.

Tapi, sebagian orang punya prinsip : ‘biar lambat asal selamat’. Saya pun semi-semi begitu. Kalau berurusan dengan mode dan perkembangan jaman, mungkin lebih baik ‘biar lambat asal selamat’ daripada ikutan eksis kekinian dan diseragamkan dengan orang lain yang jadi korban tren karena nggak punya prinsip. Mungkin lebih baik ‘biar lambat asal selamat’ daripada langsung terjun ikutan arus dunia yang ternyata ujung-ujungnya menyesatkan. Seperti kasus apel Adam dan Hawa…

Eh, maap. Saya cuma membela diri.
Oke, lanjut ke resensi.

Jadi, peristiwa pertemuan saya dengan Petir ini pun terjadi setelah mengalami kebuntuan dan keengganan dalam melakukan apa pun selama libur panjang. Sadly, ini harus terjadi dua hari menjelang habisnya libur panjang. Lagi-lagi terlambat.

Saya segera membuka halaman bab satu karena enggan menyia-nyiakan waktu di daerah ucapan terimakasih. Tapi, entah kenapa tangan saya autis dan membolak-balik halaman awal. Mata saya pun tertuju pada kalimat-kalimat yang gokil absurd. Seperti kisah Pangeran Kit yang terpesona sama Cinderella waktu pertama kali mereka ketemu, saya pun terpesona sama tulisan DEE waktu pertama kali membacanya.

Sialan. Kenapa saya baru membacanya sekarang?
Tapi, seperti yang sudah saya bilang tadi : ‘biar lambat asal selamat’. ‘Biar lambat asal sempat’.

Dimulai dari bab 1, tentang Dhimas dan Reuben. Sebelumnya saya sudah sempat dengar tentang pasangan gay ini gara-gara heboh film Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh. Eh, apa Putri, Ksatria dan Bintang Jatuh? Atau… Putri Jatuh dan Ksatria Bintang? Whatever. Pokoknya, gara-gara ada nama Hamish Daud di film itu, saya tertarik baca sinopsisnya.

Dhimas dan Reuben sedang mengalami momen jenuh dengan hubungan mereka. 12 tahun berpacaran ternyata membuat segalanya terasa basi…? Anniversary pun dijalani dengan biasa-biasa aja. Yah, saya ngga paham sih metode anniversary versi kaum gay. Jangankan gay. Yang normal aja saya ngga tahu. 12 TAHUN PULA! Mama-papa saya aja kayaknya ngga sempet anniv 12 tahun pacaran. Kalo sempet, mungkin saat ini saya masi berwujud bayi tabung.

Lanjut ke resensi.

Dhimas tiba-tiba mendapat kiriman e-mail dari pria yang tak dikenalnya. Isi e-mail itu membuat saya bingung sekaligus penasaran. Bingung karena belum baca ksatria-ksatria itu dan penasaran karena intinya sepertinya berbahaya. Thriller. Yeah.

Lalu, tiba-tiba cerita diputus begitu aja, beralih ke kisah hidupnya Electra yang gokil

Electra, her Dedi and her sister–Watti. Cara Electra menceritakan kisah hidupnya mulai dari kecil hingga luntang-lantung dalam kedewasaan terbilang cukup menyenangkan. Hal-hal yang suram dan menyedihkan, dia komedikan dengan kata-kata yang bikin saya inget-inget kesan sewaktu membaca Laskar Pelangi. Realita hidup yang berat ternyata bisa dibuat komedi kalau kita… pinter mainan sama kata-kata (loh?). Yah, si Electra menceritakan kisah hidupnya yang nggak se-smooth Kardashians, tapi dari cara dia bercerita, semua kemalangannya ternyata cukup menghibur (Serius. Saya bukan psikopat, tapi beneran menghibur loh!). Tepuk tangan untuk Dewi Lestari!

Saya ngga mau berbusa-busa menulis sinopsis novel ini karena… semua orang tahu. Malaikat juga tahu. Kalau mau lihat sinopsisnya, silahkan buka blog lain. Saya sudah terlambat membacanya lebih dari satu dekade. Tolong jangan gantungkan hidup anda pada saya yang lambat ini.

Saya menyukai gaya menulis Dee. Saya menyukai idenya yang unik namun bisa diimplementasikan dengan setting Indonesia. Saya menyukai filosofi-filosofi hidup yang muncul di beberapa dialog atau narasi pemikiran para karakternya. Saya menyukai alurnya yang sederhana tapi bikin ketagihan. Saya suka kompleksitas–keberagaman elemen yang dijadikan obyek tulisan Dee, mulai dari etnis, agama, prinsip hidup… tapi nggak terkesan memojokkan golongan tertentu. Ini realita. Benar-benar terjadi di Indonesia. Konsep SARA tapi ngga bermaksud mengolok-olok. Kalau ada yang merasa tersinggung karena embel-embel SARA itu… well… mungkin dia perlu didoakan agar segera bertobat.

Saya suka semuanya. Tapi nggak suka endingnya. Misterius. Saya lemah sama hal-hal yang misterius. Kan jadinya mupeng tapi ngga kesampaian! Saya hunting ke seri lainnya, kisah Electra dan Mpret pun kelihatannya masih samar dan digantikan kisah tokoh-tokoh lain. Kan nyebelin jadinya. Tapi ngga bisa marah juga. Justru keruwetannya itu yang bikin indah.

Overall (ini yang sering ditulis orang-orang keren yang biasa bikin resensi keren di blog-blog keren tentang sesuatu yang keren), saya suka semuanya. Bahasa yang kocak, ringan, Indonesia banget, sederhana, tapi kaya.

Bagi yang merasa hidupnya bosan, hampa, butuh revolusi, mungkin anda perlu sambaran Petir.

Rating saya untuk buku ini adalah 4.5/5. 0.5-nya hilang karena endingnya yang bikin saya bengong dan merasa dipermainkan.

Makasih Dee, anda adalah aset bagi negara ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s