People

Si Kuat

Ijinkan saya berbagi sedikit cerita tentang Si Kuat.

Saya mengenalnya sekitar 5-6 tahun yang lalu. Di suatu tempat yang menyenangkan, penuh keributan ketika dosen tak datang, sunyi seperti kuburan ketika libur lebaran.


Saya menyapanya, ala kadarnya, karena sudah menjadi alur wajib di negara ini untuk mainan basa-basi sambil pamer gigi. Dia membalasnya. Setelah itu, kami kembali fokus pada masing-masing pikiran.
Beberapa hari kemudian, saya diajak berteman dengan Si Kuat melalui media sosial. Pemikiran saya saat itu tentang Si Kuat adalah : salah satu manusia kepo yang supel di media sosial, mau berteman dengan siapa saja tanpa peduli apakah mereka juga peduli padanya. Saya pun menerima undangannya. Apa salahnya berteman? Toh kita sudah saling sapa.
Lalu, hari-hari media sosial saya mulai dipenuhi postingan kegalauan Si Kuat.
Kasihan, pikir saya. Tapi saat itu saya juga sedang galau karena seseorang. Entah kenapa, saya berharap Si Kuat menggalaukan orang lain, bukan seseorang itu.

Entah kapan tepatnya, saya parno dengan perasaan Si Kuat. Saya pun memberanikan diri bertanya. Si Kuat mengemukakan nama yang lain. Bukan si seseorang. Hupf. Syukurlah. Dari situlah kami mulai banyak berceloteh. Sejak saat itulah kami merasa perlu bicara setiap hari via media sosial, karena pertemuan langsung masih terasa aneh dan penuh tembok harga diri yang konyol. Sejak saat itulah, hingga detik ini, perkenalan basa-basi plus pamer gigi itu berubah menjadi ikatan saudari yang terkadang penuh anarki dan keji. Tapi, percayalah… nurani kami murni dengan perasaan persaudaraan yang suci.

Lama saya mengenal Si Kuat, timbul rasa yang aneh dalam pemikiran saya. Si Kuat adalah manusia yang kuat—begitulah anggapan saya. Ada sesuatu di dalam dirinya, jiwanya, rohnya, yang tak terlihat, namun bisa dirasakan bahwa itu sangat kuat. Dan, Si Kuat memang kuat. Kuat kemauan, kuat kemampuan, dan juga kuat kepala (baca : keras kepala).
Well, keras kepala tidak selalu berarti buruk. Keras kepala adalah bukti seseorang punya pendirian, tidak mudah terbawa arus, menguasai dirinya sendiri, meskipun kadang-kadang menyebalkan.

Ada kalanya Si Kuat terlihat tak berdaya. Seperti beberapa waktu yang lalu, Si Kuat jatuh ke dalam lubang kelemahan karena kekuatannya. Karena terlalu kuat mencintai. Si Kuat tidak menyangka, dunia jauh lebih kuat dari dirinya saat itu. Takdir bersenda gurau terhadap kekuatannya, sampai akhirnya ia merasa dilucuti dan menjadi lemah. Si Kuat lupa bahwa dirinya kuat. Lelucon takdir mungkin menampar jiwanya terlalu kuat, hingga akhirnya Si Kuat kuat bertahan dalam kelemahannya. Tapi, dunia masih berputar pada porosnya. Saya pun masih merasa, Si Kuat masih memiliki kekuatannya untuk kembali kuat. Si Kuat mungkin belum mengingat kekuatan yang ada di dalam dirinya, tapi saya yakin, suatu saat, kekuatan itu akan bangkit dan membuat Si Kuat menyadari bahwa ia masih memiliki hidup. Saya percaya, percikan api yang ada di dalam jiwanya akan kembali berkobar, dan mungkin bisa meledak seperti bom atom. Mungkin hanya Tuhan yang tahu kapan itu akan terjadi.

Si Kuat tidak akan jatuh ke dalam kelemahan yang sama, karena ia telah menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Si Kuat tidak membutuhkan seseorang untuk menjadikannya kuat, karena dia adalah Si Kuat, ciptaan Tuhannya yang juga kuat. Si Kuat akan kembali berpijak di atas dunianya yang kuat, dan dia akan bersinar seperti matahari pagi di musim semi.

Untuk Si Kuat yang terjebak di cangkang yang lemah : Selina Satrijo—belahan jiwa dalam rupa sahabat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s