People

Kolibri

kolibri2

Saya belum pernah melihat burung kolibri secara langsung, tapi sudah sering mendengar namanya disebut-sebut—entah dari televisi, hasil nguping tetangga sebelah, atau kilasan penampakan di buku Biologi pelajaran sekolah.

Sayangnya, saya nggak terlalu perhatian dan nggak cukup penasaran tentang kolibri. Pokoknya tahu ada burung berjenis kolibri, punya paruh, sayap, bulu, dan bisa terbang. Besarnya semana, kepalanya kotak atau lonjong, kakinya berselaput atau nggak—saya nggak mau ambil pusing. Pokoknya burung. Titik. Mungkin kalau ternyata dia berwujud seperti kodok, saya adalah manusia yang kaget paling belakangan. Kan, prinsip saya : biar lambat asal selamat—satu dekade lebih lambat.

Lalu, tiba-tiba, saya digerakkan rasa penasaran tentang kolibri. Saya menyontek ke Google dan berlabuh pada Wikipedia Indonesia yang cuma kasih info sedikit.

Kolibri adalah burung kecil dengan panjang 6.4 cm dan berwarna cerah yang sebagian besar hidup di Amerika Utara dan Amerika Selatan. Seekor kolibri mempunyai sekitar seribu bulu yang bergemerlapan sehingga dapat memantulkan dan memencarkan sinar warna-warni yang dapat berubah ketika burung bergerak seperti minyak pada air….

Lalu…

Kolibri adalah burung terkecil di dunia. Beratnya 6 gram dan panjangnya 6.35 cm…

Mereka masih menyembunyikan fakta bentuk kepala kolibri. Tapi saya sudah melihatnya di Google, 0% berbentuk kotak.

Kemudian, saya membaca kalimat selanjutnya :

Kolibri adalah penerbang yang ulung, dengan gerakan sayap yang sangat cepat, satu detik mencapai 12-80 kali kepakan…

Tempat tinggal saya adalah di perumahan kelas menengah yang lumayan padat. Waktu dunia sedang heboh gerhana, yang bisa saya lihat dari halaman rumah saya adalah tembok tetangga seberang, atau balkon tetangga pojokan, dan yang lebih miris lagi adalah antena televisi punya papa. Kalau mau lihat bintang di malam hari, saya harus berjuang melawan kerumunan massa daun pohon mangga. Kalau hoki, saya bisa menemukan bintang di langit yang gelap, tapi kalau tidak, saya cuma bisa lihat jamur putih di daun mangga yang gelap. Tak heran, saya jarang melihat spesies aves selama tinggal di sini. Untuk kategori yang lebih spesifik macam kolibri, sepertinya itu perlu mujizat dari tetangga sebelah yang kebelet pamer. Dannnnn… sepertinya, para tetangga pun tidak terlalu antusias dengan kolibri. Jangankan yang eksklusif macam kolibri, batu akik pun mereka tidak terlalu excited.

Untungnya, seiring dengan perkembangan jaman dan teknologi…(ups, sorry. Kebanyakan nulis latar belakang di buku-buku skripsi mahasiswa yang malang—malas dan banyak uang), saya masih punya akses untuk melihat—meskipun secara tidak langsung, tentang burung kolibri.
Ternyata burung ini sangat indah. Bentuknya mungil, bulunya berwarna-warni dengan konsep yang cetar kharismatik—tidak lebay seperti ketumpahan cat tembok. Paruhnya lancip mungil, seperti jarum suntik. Pokoknya enak dilihat deh! Saya yang masa kecilnya diracuni tweety dan woody woodpecker, agak menyesal karena sudah seperempat abad hidup di dunia ini tapi baru sekarang mulai pay attention ke burung kolibri. Selama ini saya sibuk mengagumi burung elang, burung rajawali, burung hantu, burung merak, atau burung Phoenix yang katanya cuma mitos itu. Saya bahkan cuma pernah pegang burung…err…apa ya namanya? Burung gereja? Yang cokelat-cokelat itu? Itu pun dalam keadaan mati setelah ditabrak mobil papa. Kasihan.
Mudah-mudahan setelah ini saya bisa tahu lebih banyak tentang burung kolibri. Ada berbagai jenis burung kolibri, tapi saya tidak ingin membahasnya sekarang.

Ada satu sahabat saya yang sedikit mirip dengan burung kolibri. Dia memiliki jiwa yang bebas. Ketika kebebasannya sedang mengambil alih, dia akan terlihat seperti sedang terbang di udara. Cantik, bersinar, bersahabat dengan musim semi. Tapi, dia juga terkadang menjad pribadi yang bertekuk lutut pada aturan. Di saat seperti itu, dia terlihat seperti kolibri yang sedang terbang dengan cepat, begitu cepat dan merajai dunianya sendiri.
Beberapa orang menyukainya, beberapa orang mengaguminya, memuja bulu-bulunya yang indah. Tapi ada beberapa orang yang tidak menyukainya dan beberapa orang takut terhadapnya. Dia—Si Kolibri, tidak peduli dengan semua itu. Dia tahu semua itu, tapi dia hanya ingin terbang bebas di saat kebebasan itu datang, dan mengabdi sepenuhnya ketika peraturan itu datang. Dia memiliki hati nurani, dia tahu kapan terjadinya perubahan itu.
Si Kolibri terkadang terpuruk dalam keadaan lemah. Wajar. Tubuhnya mungil, tidak bisa dibandingkan dengan elang atau rajawali yang punya ekstra tenaga saat menghadapi badai. Tapi Si Kolibri bisa kembali bangkit, dan dia tahu kapan terjadinya kebangkitan itu karena dia bisa melihatnya, seperti burung kolibri yang memiliki indera penglihatan yang sangat baik.

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan sebuah fakta mengejutkan, bahwa, burung kolibri adalah burung yang agresif meskipun tubuhnya sangat kecil. Mereka tidak segan menyerang gagak atau elang yang mencoba menerobos teritori mereka. Kolibri adalah si pecinta kebebasan dengan keindahan yang menawan dan keberanian yang luar biasa.

Untuk Si Kolibri yang sedang sakit, semoga cepat sembuh ya sayang : Cynthia Sugiarto.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s