Life, People

Adaptasi

Dalam kurun waktu kurang dari setahun, saya mengalami banyak perubahan. Perubahan adaptasi mungkin. Tahun lalu adalah tahun yang paling damai. Peaceful. Ibarat tinggal di Rivendel atau tanah Lorien. Tapi tahun ini, ibarat kecemplung di tanah Mordor.

Di Rivendel, yang saya perlukan hanyalah adaptasi terhadap diri sendiri, yang waktu itu berjalan dengan sangat smooth. Mungkin hanya omelan Mama yang kadang-kadang bikin saya gatal. Tapi jauh di lubuk hati saya, dan saya baru mau mengakuinya sekarang, apa yang saya pikir smooth pun ternyata membangunkan rasa ketar-ketir dalam diri saya. Ujian adaptasi terhadap diri sendiri : lulus, dengan nilai B (mungkin). Saya mudah beradaptasi dengan diri sendiri, tapi di saat yang sama, saya ketakutan dengan pandangan orang lain terhadap diri saya sendiri. Ada perasaan itu, secuil, tapi ketutup dengan bahagia karena menjadi diri sendiri dan nggak diutak-atik orang lain.

Di Mordor… well… it’s a nightmare. Saya harus berbagi jam-jam saya dengan orang-orang baru yang menurut saya… duh rempongismenya tinggi sekali. Ya, saya tahu, hidup mereka berbeda dengan saya. Mereka sudah berkeluarga, dari segi pendidikan, pengalaman, pola pikir, budaya, semua sudah berbeda. Saya mencoba sabar, seenggaknya, ada sisi baiknya dari mereka yang kadang-kadang membuat saya nyaman. Kadang-kadang.

Singkat cerita, ketahanan saya bergabung dengan dunia Mordor ternyata sangat singkat. Saya beralih ke dunia baru, entah harus saya namakan apa karena umur saya di sini baru secuil upil. Dan, lagi-lagi saya harus membagi jam-jam saya dengan orang-orang baru yang menurut saya…. ini beda, tapi juga belum tahu apakah bisa membuat saya nyaman seperti terhadap diri sendiri atau tidak. Mungkin terlalu berat mengatakan ‘nyaman seperti terhadap diri sendiri’, saya akan coba ganti dengan ‘nyaman seperti terhadap manusia baik lainnya’.

Setelah saya renungkan, ternyata saya mempunyai masalah dalam beradaptasi. Sifat introvert saya mungkin punya benih-benih paranoid yang nggak masuk akal. Sampai detik ini, kadang saya amazed dengan : ‘wow, mulai sekarang, mereka-mereka adalah rekan kerja saya’. Aneh rasanya. Saya harus berbagi ide dan pemikiran saya kepada mereka, saya harus menyesuaikan kerja dengan ritme mereka. Aneh rasanya, dan agak malas! Hahahaha. Tapi mungkin ini tantangan untuk diri saya. Ini mungkin ujian untuk mengukur sejauh mana ada tenggang rasa dalam diri saya. Untuk mengukur : lu itu kuper apa nggak sih?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s