Life

The Hardest Part of Belonging is Losing

Seharusnya saya memikirkan kata-kata dan tulisan indah untuk postingan lain, tentang teman saya, Si Pengendali Udara, yang sebentar lagi akan lamaran. Karena sudah waktunya dia diberi ‘jatah’ kata-kata sanjungan karena dua ekor yang lain sudah kenyang termehek-mehek (kata mereka sih begitu! Oh, si Jojos juga belum!).

Berhubung akhir-akhir ini saya sedang diselimuti kabut duka, dan otak di kepala saya sudah merengek-rengek untuk berpidato meskipun sudah tahu tidak akan ada yang membaca secara sukarela atau kebetulan, kecuali saya copas-copas link ke grup pertemanan di Line… akhirnya saya putuskan, malam ini untuk mencoba mengetik.
It’s been a while, like always…

The hardest part of belonging is losing.

Secara de jure, saya tidak pernah menyebutnya sebagai ‘kucing saya’, namun secara de facto, dia adalah kucing keluarga kami. Kucing saya juga. Kucing yang kalo saya panggil namanya, langsung noleh seolah-olah ‘yes it’s me, you’ve called me and I see you, puas?’.

Awalnya, saya menamainya Tablo. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada rapper keren asal Korsel, Tablo yang ini murni merupakan singkatan dari kata ‘TAmpang BLOon’. Memang kucing hitam putih satu ini bertampang bloon, mungkin karena terlalu banyak cacing di perutnya.
Atau kekurangan garam beryodium.

Tablo adalah kucing jantan liar yang sering wara-wiri di depan rumah saya. Cuma sekedar lewat, karena dia nggak ada bisnis atau kepentingan dengan keluarga kami (sebelumnya). He was a stranger. Kucing kampung yang keindahannya cuma sampai ke level kampungan, nggak pantas disandingkan dengan angora atau persia atau australia atau asia atau afrika dan segala macam jenis kucing lainnya kecuali kucing kampung. Bahkan untuk kelas kucing kampung yang cukup beruntung dimanjakan keluarga kaya pun…. he’s definitely a looser chap.
Bukan belang tiga, tapi cuma belang dua—hitam dan putih, seolah-olah di tubuhnya menyatu unsur yin dan yang dengan segala kesejajaran nuansa alami berseri mewangi sepanjang hari…. prettt….
Tidak seagung itu. Tablo cuma kucing dengan bulu hitam dan putih yang kadang-kadang melempes karena dijilat-jilat.

Once upon a time, rumah saya disatroni kucing lain yang kami panggil ‘Tongki’. Tongki is a baddass one. Yang kalo kelaperan, dateng-dateng langsung meong-meong dengan nada tinggi dan menyentak. Sampai-sampai kami mengalami krisis identitas temporary : ‘ini yang manusia siapa yang disentak-sentak siapa’. Lama-lama, Si Tongki bertingkah annoying (and he’s always!). My Mom yang brilian tiba-tiba punya ide : ‘Kita panggil aja itu kucing kampung, biar Si Tongki tau rasa!’. Yeap, the one yang dia maksud adalah Tablo. Sebagai kucing kampung yang suka berkarnaval keliling perumahan, Tablo ibarat Lion King, Si Penguasa Hutan—Perumahan. Kucing-kucing liar yang lain cukup takut dengan sosoknya yang gagah dan cool, termasuk Tongki. He did nothing, tapi kucing-kucing merasa terintimidasi scary as hell seolah-olah Tablo adalah Grim Reaper yang siap nyabut nyawa mereka untuk segera bertemu dengan raja neraka. That kind of aura yang bikin mama saya merasa ‘kita harus merekrut Tablo untuk mengusir Tongki dari Zona Ekonomi Eksklusif rumah kita’.

So, hari-hari perayuan pun tiba.
Mama membeli ikan mentah untuk memancing Tablo datang ke rumah. Tongki yang sedang di teras pun segera merasa terancam dengan kehadiran Tablo. Terjadi keributan yang bersumber pada mulut Tongki (seperti yang sudah saya bilang, Tablo is a cool guy. Ga perlu roar-roar, kucing-kucing lain uda sawan duluan!).
Dan, Tongki pun segera berlari tanpa peduli Tablo yang sebenarnya tidak peduli padanya, karena Tablo hanya peduli pada jenazah si ikan. Skor 1-0 untuk Tablo.

Hari selanjutnya, Tongki datang. Mama kembali memanggil Tablo yang waktu itu kami sebut ‘Pussy’. Sounds sexy, right?
Lalu, Tongki pun kabur karena melihat Pussy. Pussy pun kembali menikmati ikannya. Skor 2-0 untuk Tablo The Pussycat.

Entah berapa lama hal ini terjadi, kami pun mulai terbiasa memanggil ‘Pussy’ untuk sekedar mampir ke rumah dan menikmati hidangan teh.
Saya mencoba mengkampanyekan gerakan memanggil nama ‘Tablo’, tapi tetap saja, yang paling ear-friendly ya cuma ‘Pussy’. Akhirnya, Pussy menjadi tamu langganan kami yang baru dan kami jatuh cinta dengan ke-cool-annya. He spoke nothing, didn’t meowing atau menyentak-nyentak seperti Tongki. Dia cuma duduk dengan memasang muka bloon, innocent, tapi kami merasa berbunga-bunga.

Keakraban kami mulai meningkat. Pussy yang awalnya cuma sesekali mampir, kali ini mulai rutin setiap hari. He’s an untouchable cat. Biasanya, kucing paling suka dielus-elus, dibelai-belai, ditarik-tarik kumisnya, disentil pelan-pelan kupingnya, diinjek ekornya, dikitik-kitik perutnya, diperiksa kelaminnya (laki-laki atau perempuan), dan segala bentuk skinship lainnya. Lain halnya dengan Pussy. Dia paling nggak bisa disentuh. Cuma melihat manusia angkat tangan atau menyodorkan tangan ke arah dia, kekacauan pun terjadi. Maksud dari kekacauan ini adalah : Pussy melarikan diri, secepat kilat, sekuat tenaga, seolah-olah baru disapa malaikat dari dunia kematian.
Akhir-akhir ini saya baru memahami, kucing liar sejati memang memiliki nurani pertahanan yang lebay seperti itu. Maksud manusia adalah baik, tapi di mata kucing liar sejati, kami adalah Hitler Farhat Abbas.
Perilaku mengesankan dan menyedihkan ini terjadi hingga sekian lama, sampai Pussy yang kini mendapat panggilan baru : Sussy (it’s mom’s weirdest idea), mulai akrab dengan kami meskipun masih menjaga jarak. He trusted us, finally. Kami mulai menyentuh sedikit demi sedikit, dari ujung telinga, punggung, ujung kaki… until he felt enough dan segera menyingkir, menjauh dari tangan kami yang suci dan luhur.

Mama pun mulai rutin membelikan ikan untuk makanan Sussy. Saya pun ikut-ikutan merasa bertanggung jawab untuk mencicipinya makanan elit. Kadang-kadang saya membelikannya whiskas kemasan. Awalnya saya takut dia tidak doyan. Secara, kucing kampung, selera makannya sudah pasti kampungan. Tapi, ketika pertama kali saya cicipi seafood cocktail, dia ketagihan. Sialan.
Mama tentu saja mengkampanyekan gerakan larangan whiskas setiap hari. Saya pun tidak tega dengan jemaat kertas di dompet saya. Akhirnya, whiskas pun hanya boleh diberikan setelah saya gajian. Minimal setengah sehari, maksimal satu. Boleh beli dua, tapi pemberian jatah hanya untuk occasional tertentu. Misalnya ketika wajah Sussy terlihat lebih memelas dari biasanya.
Terkadang, saya pun mencicipinya camilan yang sedang saya makan. Di antara camilan-camilan murahan, Sussy paling ketagihan dengan Chitato. Sialan.
Saya pun menyadari, kucing kampung ini ternyata punya selera internasional.

As time goes by, Sussy mulai menjadi bagian dari keluarga kami. Acara menonton tv pun sering dihadirinya. Acara tidur siang pun sering diikutinya. Beberapa fakta menarik tentang Sussy, antara lain :

  • maniak, posesif, fanatik dengan sandal atau sepatu yang berbahan lembut. I’ve never seen another cat like him, yang kalau liat sandal atau sepatu, langsung ditindihin, atau dipeluk erat seperti guling. Kadang-kadang, ownernya harus berjuang tarik-tarikan sandal sama dia…
  • tidur dengan pose seperti kucing mati, vulgar, tak beradat, tak berwibawa, mempertontonkan aurat. Sudah banyak bukti-bukti yang memberatkan terdakwa mengenai perilaku ini.
  • suka puasa senin-kamis. Kucing liar adalah mahkluk dengan tingkat kelaparan yang sangat tinggi (menurut saya). Bukan karena perut mereka mengandung naga atau dementor, tapi karena… yeah, itu sudah kodrat mereka. Tapi, kasus Sussy adalah sesuatu yang langka. Suatu saat dia kelaparan hebat, tapi suatu saat bisa menolak sodoran ikan mentah segar, seolah-olah ikan itu sudah ditaburi bubuk sianida oleh mama. Dan, kejadian ini sering terjadi di hari Senin atau Kamis.
  • never speak more than 10 meows… a year. A cool guy. Calm and confident. He speaks through his eyes. AND WE LOVE HIM BECAUSE OF THIS!!!!!
  • Setelah disodorkan ikan atau makanan, dia selalu melihat kami melalui matanya yang tajam namun kalem, seolah-olah bertanya : ‘bener ini buatku? Makasih banget loh ya. God bless you.’
    Emang ganteng ini kucing!
  • Baik hati dan suka menolong. Meskipun ditakuti rakyat kucing, Sussy is a good guy kepada kucing kecil atau kucing lemah. Kadang-kadang dia mengalah supaya kaum duafa tersebut dapat menikmati makanannya. Mungkin cuma Tongki, sesama kucing yang paling nggak disuka Sussy. Dan mungkin karena Tongki is a jerk di mata Sussy.
  • A gentleman, punya manner, sopan. Meskipun dia berada di tempat yang sama dengan onggokan ikan segar untuk kami, dia nggak akan mencuri ikan itu dan kabur begitu saja. Sussy tau, dia punya jatahnya sendiri dan mencuri adalah dosa.
  • Dikenal masyarakat sekitar karena mama sering beli ikan di abang-abang tukang sayur nyentrik. “Mana ikan buat Sussy?” Mungkin abang-abang itu pun bercerita ke tetangga-tetangga di sekitar rumahnya. A FAMOUS CAT NAMED SUSSY.
  • Kalau dengar suara motor tukang sayur atau tukang ayam, Sussy duluan yang lari-lari ke luar pagar dan duduk menanti dengan sabar. Mama kadang-kadang menyindirnya : ‘Oi Sus, emang lu punya uang buat beli ayam?’ ujung-ujungnya nambahin gini : ‘sana minta si Shinta buat beli ikan….’
  • Anti bermain sok imut ala anak kucing atau kucing-kucing belia yang labil. Mungkin eksperimen ini cuma berlaku sekali, atau dua kali, seumur idupnya. Mungkin juga karena pengaruh faktor usia. Siapa bilang usia tidak menentukan kedewasaan seseorang? Sussy adalah bukti konkret bahwa usia tua mampu mematangkan dan mendewasakan sikap dan pemikiran.
  • Pemain gitar ulung. Eits, jangan salah sangka dulu. Maksud gitar di sini adalah… trust me, it’s a silly thing. Karena bukan termasuk kucing anggun, dan setiap hari tingkahnya samena-mena e-e waka-waka e-e, berprinsip ‘berani kotor itu baik’, nggak heran kalau Sussy sering terlihat menggaruk-garuk tubuh dan bahkan menggigiti kulitnya dengan segenap hati. Melihat pose unyunya menggaruk-garuk punggung dengan kaki belakang, sontak saya dan mama berteriak : ‘hei Sussy! Lagi main gitar ya?’. Lalu dia berhenti mendadak. Malu. Nggak lama kemudian, dia garuk-garuk lagi dengan cara yang sama, lalu saya bergumam, ‘Jreng jreng jreng jreng~~~ jreng jreng jreng~~~’, dan Sussy pun kembali berhenti, tersipu malu dengan wajah yang memancarkan aura kebloonan tingkat dewa. Untuk kasus menggigiti kulit, mama menyebutnya ‘sedang memetik gitar bass’.
  • First greeter at home. Case number 1 : setiap kami baru tiba di rumah, Sussy yang entah ada di mana, tiba-tiba muncul, lari-lari, dengan perutnya yang buncit dan kaki-kakinya yang cebol, duluan menerobos pagar, bersiap di depan pintu untuk berebut masuk dengan kami. Case number 2 : kalau sedang tidak mengejar kucing betina, atau malas bergerak, dia selalu ada di teras dan menjadi penyambut pertama kami yang baru tiba dari berpergian. Case number 3 : case number 2 + prolog dari mama sebelum pergi keluar : “Sussy, jaga rumah ya. Nanti dikasih ikan kalo kita pulang.”
    He’s the faithful one, no kidding.

The last fact, mungkin masih ada fakta-fakta lain yang belum saya sampaikan, tapi… sorry, baru aja nangis.

  • sakit-sakitan. Di antara kucing-kucing kampung nan liar yang sering singgah ke rumah kami, Sussy adalah yang paling jago menghindar dari kecelakaan tapi paling lemah kesehatannya. Dia paling sering sakit. Mulai dari umbelan, flu ringan, busung lapar, gatal-gatal, tampang kumuh (terakhir-terakhir kami panggil dia ‘Kumuh’ karena bulu-bulunya yang kotor dan menyedihkan), kebotakan, rabun senja, katarak, bahkan gondongan. Semua penyakit itu bukan berdasarkan fakta rekam medis sih, cuma berdasarkan apa yang kami lihat dan simpulkan sesuka hati.

Dan, fakta terakhir adalah penentu kematiannya.

Suatu malam, mama memberinya ikan, seperti biasanya. Sussy sedang dalam kondisi sehat saat itu. Saat larut malam, saya dengar suara kucing bertengkar (seperti biasa, agenda rutin), dan saya tidak punya pikiran buruk tentang Sussy. Pagi harinya, mama saya menemukan muntahnya di garasi. Sussy hilang. Kami berpikir positif, kejadian semacam ini sudah sering terjadi, dia muntah dan kemudian kabur buron karena takut dimarahi mama. Besoknya, dia tidak datang. Kami berpikir dia sakit dan akan kembali ke rumah dalam keadaan sehat, entah kapan. Lusa, dia tidak menampakkan diri. Kami masih berpikir dia sakit dan akan kembali ke rumah dalam keadaan sehat, entah kapan. Hari ketiga, kami masih optimis, karena hari ketiga identik dengan hari kebangkitan….. Hari keempat, candaan mama dan papa di hari-hari sebelumnya yang menyebut-nyebut : ‘Sussy sudah mati nih….’ mulai terasa nyata. Ini adalah absen Sussy paling lama… Saya mulai kangen, namun masih yakin dia akan datang dalam keadaan sehat, tapi kemudian abang tukang sayur nyentrik memberi laporan kepada mama, dengan suaranya yang bohai kencang menggelegar sampai saya dan papa mendengar dari dalam rumah.

Sussy sudah mati Bu, tadi satpam cerita, dia disuruh buang bangkai kucing di atap rumah Mr. X. Udah tiga hari kayaknya, sudah bau. Kucingnya besar, warna hitam-putih.

Tidak ada hantaman guntur, sambaran petir atau efek kesetrum ekstrim lainnya dalam diri saya. Saya mendengar berita itu seperti sedang mendengar berita cuaca yang normal, tapi hati kecil saya bergumam : “Jadi, Sussy sudah mati?”
Pelan namun pasti, mata saya mulai berkaca-kaca, tapi saya berusaha cool, tersenyum, karena ada papa di dekat saya. Mana bisa saya nangis-nangis bombay di depan keluarga!
Saya pun memutuskan untuk pergi ke kamar mandi, dengan maksud mandi sekaligus nangis sembunyi-sembunyi.
“Sussy sudah mati.” Kalimat itu terus bergumam di batin saya, air mata saya semakin deras. “Gawat, gimana nih klo keluar dengan mata bengkak? Jadi, Sussy sudah mati.”
Potongan-potongan kenangan tentang Sussy mulai berkeliaran di ingatan saya. “Jadi, Sussy sudah mati. Kucing itu—yang biasa dudukin sandal saya. Jadi, Sussy sudah mati.”
Ada harapan yang cukup menenangkan, bahwa dia sekarang sedang menikmati ikan-ikan gratis di Taman Eden. Mungkin sedang dielus-elus Tuhan. Tapi papa mengatakan, kucing atau hewan lain yang sudah mati, jiwanya akan lenyap begitu saja, tidak seperti manusia yang bisa menuju kekekalan yang bahagia atau yang sengsara. Saya pun mulai sedih. Saya pun mulai percaya dengan kata-kata papa yang belum bisa dibuktikan kebenarannya itu, lalu, saya pun protes ke Tuhan. “Ini gak adil, Tuhan. Masa Sussy lenyap begitu aja? Ayolah Tuhan…. biar nanti saya boleh ketemu dia di kekekalan.”
Kalau kata-kata papa benar, mungkin saya bakal diketawain malaikat Gabriel. “Idiot lu, Shin.”

Selanjutnya, hari-hari saya mulai diwarnai dengan perasaan yang aneh. Saya sedih karena Sussy, tapi nggak sedih-sedih amat karena dia adalah mahkluk hidup yang sudah waktunya mati. Saya nggak sedih, tapi sedih karena Sussy sudah pergi. Sedih-tidak sedih. Ababil.

Mungkin ini akan menjadi sesuatu yang paling saya ingat sepanjang sejarah kehidupan saya, tentang Sussy, kucing yang menyenangkan dan tidak menyusahkan. Saya bahkan ingin menyusupkan cerita ini ke buku Cat Stories karangan James Herriot. Bagian bawah daftar isinya ingin saya tambahkan ‘Shin’s Cat Story – Sussy, The Gentleman’.

So, I didn’t see his body for the last time. I think it’s a good thing… for me, so I’ll always know that he’s alright. The last thing I will remember about is…. that he’s healthy, strong, wild, old yet adorable.
Saya sudah tidak peduli dengan definisi de facto atau de jure. Sussy adalah kucing saya, kucing keluarga kami, mau de facto or de jure, he’s ours.

B E L O N G S  T O  U S

Yeah…. the hardest part of belonging is losing.
Goodbye Sussy. I still hope for the second meeting, one day.

Fly on… ride through… maybe one day I fly next to you…

Fly on…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s