Life, People

Selamat Hari Ibu….

Tanggal 22 Desember!

Semua manusia yang merasa ‘anak’ di Indonesia serempak merayakan Hari Ibu, kecuali saya. Semua media sosial yang saya ikuti sudah dibanjiri ucapan selamat hari ibu–happy mother’s day‘ blah blah blah. Mainstream. Di Line, mulai dari tayangan video seputar ‘mamah’ sampai iklan promo Alfamart juga bertema ‘Hari Ibu’. Bahkan Google Art pun ikut mengusung tema Hari Ibu. Semua serba ibu-ibu. Anehnya, para tukang sayur hari ini nggak ngasi promo diskon besar-besaran, padahal hari ini Hari Ibu. Seharusnya mereka berpartisipasi dalam acara ini karena sebagian besar pembeli dagangan mereka adalah para ibu. Seharusnya Menteri Pemberdayaan Perempuan mengeluarkan fatwa melarang peredaran tukang sayur di Hari Ibu kalo nggak ada diskon promo.

Oke, sudah cukup dengan tukang sayur.

Gimana dengan Hari Bapak? Apa sih esensinya Hari Ibu? Kenapa di Indonesia cuma ada Hari Ibu dan nggak ada Hari Bapak? Ini bisa dianggap kesenjangan sosial karena kesannya mengeksklusifkan satu golongan. Kenapa nggak ada Hari Kakek, Hari Nenek, Hari Kakak, Hari Adik, Hari Anak Tunggal, Hari Sepupu, Hari Keponakan, Hari Besan, Hari Sahabat Karib, Hari Musuh, Hari Tetangga…? Dan, kenapa cuma di Hari Ibu, banyak orang yang berbondong-bondong memberikan hadiah untuk ibunya? Kenapa nggak di hari lain, kenapa nggak setiap hari (kalo bener-bener sayang ibu, maka sayang ibu lebih besar dari sayang uang!).

Mau sedikit curcol aja, saya sempet minder waktu temen saya bingung cari kado untuk mamanya, buat dikasih di Hari Ibu ini. Saya langsung teringat Mama di rumah. She’s not that kind of typical mother in this earth.¬†She’s cool in her way. Bukan berarti Mama saya bukan orang romantis dan agak beraliran komunis, tapi memang begitulah dirinya. Mom tau mana yang harus diprioritaskan dan mungkin menurutnya Hari Ibu adalah kind of bullshit thing yang nggak perlu dirayain. Bahkan tadi waktu nonton acara infotainment, pas presenternya mulai membahas tentang Hari Ibu, Mama langsung ganti channel ke acara kartun larva yang suka ngentut itu.

Dan, karena Mama seperti itu, maka saya pun ikut menyesuaikan prinsipnya yang eksentrik. Saya setuju dengan filosofi atau arti di balik Hari Ibu. Saya setuju kalau anak-anak mengkhususkan hari ini untuk mengapresiasi orang tuanya, itu terserah mereka. Tapi menurut saya, waktu-waktu untuk mengapresiasi orang-orang yang kita cintai nggak hanya terbatas tanggal 22 Desember, atau di hari ulang tahun mereka. Wujud apresiasi itu juga nggak bisa dibatasi dengan pemberian bunga, hadiah, emas-perak-permata, panci lapis titanium, kompor tahan ledakan atau tiket wisata keliling dunia dan sebagainya, Apalah arti hura-hura itu kalau kita nggak tau apa yang paling diinginkan seorang ibu. Apalah arti heboh-heboh mainstream kalo apa yang menurut kita baik ternyata nggak dianggap baik oleh ibu kita. Syukur-syukur kalo ternyata anak dan ibu punya satu pikiran yang kompak, tapi gimana kalo nggak?

Saya dan Mama bukan pasangan anak dan ibu yang biasa menyampaikan rasa sayang secara verbal. Kami anti dengan romantisme macam itu tapi bukan berarti kami nggak saling sayang. Saya tau Mama selalu mendoakan saya dan saya juga selalu mendoakan Mama (dan Papa tentunya!). Dan menurut kami, ketika kami bersama-sama, sepakat bersyukur dengan keadaan yang ada, saling menolong dan mendukung hal-hal yang positif, itu sudah merupakan perwujudan rasa sayang. Mama mengandalkan Tuhan agar menjaga saya, begitu juga saya mengandalkan Tuhan untuk menjaga Mama. Dengan cara itulah kami menyampaikan ucapan sayang. Kalo tiba-tiba saya beli buket mawar dan panci ultraviolet yang terbuat dari aluminium yang mengandung serbuk pasir planet Mars, pasti Mama ngamuk dan akan terjadi perang dunia ketiga. Hehehe. Kadang-kadang di tempat umum, cara saya mengobrol dengan Mama terlihat seperti cara saya mengobrol dengan teman yang usianya sepadan dengan saya. Mungkin orang-orang melihat itu sebagai bentuk kedurhakaan berbasis kecerdasan sepihak, saya juga menyadari itu, tapi Mama nggak keberatan. Mungkin saya dianggap sebagai anak yang tidak menghormati orang tua, tapi wujud rasa hormat saya ke orang tua adalah melibatkan mereka ketika saya harus mengambil keputusan, baik yang penting maupun setengah penting. Saya merasa mereka perlu tau hal-hal penting dan saya merasa perlu memberitahu mereka apa pun ketika saya sedang jauh dari mereka. Jadi… di kamus keluarga kami, wujud hormat dan apresiasi tidak bisa dibatasi dengan sikap yang hanya dianggap sebagai lambang, benda-benda yang hanya dianggap sebagai cerminan cinta dan kasih, atau ucapan rasa sayang yang segera lenyap seiring dengan berjalannya waktu.¬†Lebih dari itu…

Sebagai penutup tulisan yang nggak jelas ini, saya mau ngasi tulisan yang saya lihat di Instagram hari ini :

Kalo bilang selamat Hari Ibu, cepat kali mulutmu itu.

Tiba Mamak suruh cuci piring, banyak kali ceritamu!

Selamat berburu bunga dan panci, gaes!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s