Life

Seasons Come and Seasons Go

Hi~~~

Akhir-akhir ini—sebenarnya cukup sering sih, saya kepikiran tentang the hardest part of belonging is losing. Kapan hari saya sudah post tentang topik ini. Cuma karena keberadaan seekor kucing, saya berasa jadi filsuf dadakan

tentang kepemilikan dan kehilangan. Gara-gara satu ekor kucing itu juga, saya kepikiran dengan hal yang lebih mengerikan : what if someday I lost something/s or someone/s more important than just a cat? Lalu saya keingat dengan orang-orang yang saya kenal dan pernah mengalami kehilangan ‘sesuatu’ yang lebih penting dari seekor kucing. Saya langsung bergumam dalam hati : wow, mereka kuat ya.

Saat memikirkan kata losing, saya kesambet dengan ilham yang cukup masuk akal. Losing bisa diartikan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai kehilangan. Saya bukan ahli tata bahasa yang memaksa Anda untuk menerima ke-valid-an arti dari kata itu. Kalau pun ada arti lain yang lebih tepat, silahkan saja diartikan demikian, tapi tolong jangan kritik saya untuk pandangan yang beda ini. Silahkan buat postingan di blog sendiri dan kirim linknya ke kolom komentar di bawah ini. Hehehe.

Kehilangan bisa terjadi di dua kondisi yang berbeda. Kehilangan terjadi setelah ada event kepemilikan secara de facto dan de jure, tapi juga bisa terjadi setelah ada event kepemilikan secara de facto saja. Bagian yang kedua ini bisa dianggap belum benar-benar memiliki (mirip kasus kucing saya, tapi yang itu pengecualian). Contoh kasus yang kedua misalnya saya naksir Lee Min Ho. Tapi rupanya si Lee Min Ho ini sudah jadian dengan Bae Suzy. Saya patah hati, merasa kehilangan, padahal saya belum ‘memiliki’ Lee Min Ho. Tapi rasa naksir yang timbul sudah saya anggap sebagai rasa memiliki. Kalo ngobrol dengan temen-temen, kadang-kadang ngomongnya : Lee Min Ho-ku atau nae namja chingu, padahal Lee Min Ho sendiri ngga tau saya eksis di muka bumi ini ato nggak. Kira-kira begitu analogi untuk kasus yang kedua. Meskipun belum sah memiliki, tetap aja sakitnya luar biasa waktu kehilangan (kata saya, yang uda familiar patah hati karena gebetan ter-un-gebet dengan sendirinya). Tapi sekarang saya nggak mau membahas yang itu. Losing yang ini akan saya bawa ke kasus yang pertama. Kehilangan karena pernah memiliki.

Kenapa beberapa orang berlomba-lomba mencari sesuatu, membuat penelitian, dan melakukan hal-hal aneh untuk sebuah keabadian? Dulu saya men-judge mereka dengan angkuh : karena mereka lupa diri, nggak kenal Tuhan, mau berkuasa, dan sebagainya. Tapi belakangan ini saya menyimpulkan hal lain gara-gara kepikiran tentang belonging dan losing. Yep! Mereka menginginkan keabadian supaya mereka nggak merasakan kehilangan. Losing dengan kasus gebetan pacaran sama cewek lain aja uda bikin nangis kadar air bah, gimana kalo losing dengan kasus seseorang/beberapa orang/sesuatu/beratu-atu (yang penting—milik kita) pergi meninggalkan kita? Sampe sekarang, saya masih ngeri ngebayanginnya. Saya juga pernah kehilangan teman dekat—pertama kali mengalami kehilangan yang berarti, dan itu membuat saya sampai sekarang masih merasa nyes kalo ingat-ingat lagi masa lalu. Saya juga pernah kehilangan nenek, kakek, tante, kucing… dan kalo pikiran lagi nyerempet-nyerempet masalah itu, saya langsung ngeblank.

Mungkin karena hal ini, beberapa orang pengen hidup abadi. Mereka nggak kuat terjebak nostalgia bersama hal-hal penting yang sudah menghilang—meskipun ada kemungkinan mereka ga bisa move on dari lagu Terjebak Nostalgia-nya Raisa. Bisa juga karena mereka nggak mau meninggalkan orang-orang yang memiliki mereka, karena mereka tahu seperti apa sakitnya kehilangan.

(Beneran deh, waktu ngetik bagian ini, telapak tangan saya tiba-tiba dingin!)

Okeh lanjut. Mungkin nggak semua pencari keabadian berpikiran sefrontal itu, tapi tetap saja, esensi keabadian adalah menghilangkan momen kehilangan yang ada, yaitu kematian. (Jadi, keabadian ternyata juga bisa menghilangkan sesuatu. Ribet ya? Tapi, nggak bisa disebut keabadian kalo menghilangkan elemen lain. Keabadian artinya dari dulu ada sampe selama-lamanya ada tanpa mengusir yang pernah ada. Kalo yang dulu ada lalu tiba-tiba nggak ada, artinya ada sesuatu yang muncul dan menggantikan yang dulu ada. Nggak bisa disebut abadi kan? Aduh pusing! Bahas ini kapan-kapan aja ya?)

Waktu masih in the moment of pergumulan ini, saya membaca pertanyaan dari kuis vonvon (atau mungkin artikel, saya nggak seberapa ingat). Pertanyaanya begini : winter forever or summer forever? Langsung deh saya sambungin dengan konsep keabadian. Saya langsung ngebayangin, winter forever kesannya enak… tapi saya kan nggak idup di dunia Frozen bareng Kak Elsa dan Dek Anna. Lagi pula, ngerasain hangatnya matahari juga termasuk a kind of pleasure yang murah meriah dan tak berdosa. Sementara itu, ngerasain kemarau dengan rentang waktu ala zona GMT+7 aja uda ngeluh sana-sini dan berasa jadi warga Mordor-nya Lord of The Rings, gimana kalo sampe selamanya? Untungnya, pertanyaan itu bukan pertanyaan wajib di Ujian Nasional. Saya nggak perlu repot-repot mikir pilih yang mana karena tiba-tiba saya keinget salah satu lagu favorit saya waktu masih SMA.

Seasons come and seasons go…

Sun will shine and flowers grow…

Winters come and My heart’s yours

For I will never leave you alone…

There’s no such eternity, kecuali eternity setelah kematian (keyakinan saya mengajarkan konsep ini—keabadian setelah kematian). Bayangin aja kalo bumi ini musimnya nggak gonta-ganti. Bagi saya yang bosenan dan kadang-kadang suka hal random, konsistensi jangka panjang adalah mimpi buruk. Bisa jadi saya menghabiskan sisa hidup saya di rumah sakit jiwa kalo tempat tinggal saya cuma punya satu musim. Bisa jadi masa kecil anak Indonesia kehilangan salah satu lagu favorit : Bintang Kecil—seandainya bumi berhenti muter sehingga kesannya matahari males move on ke barat dan bikin residensi permanen di atas garis khatulistiwa. Twinkle-twinkle little stars bakal merajai top chart mancanegara selama berabad-abad dan gak akan muncul Lady Gaga, Beyonce, Adele, Selena Gomez, Taylor Swift dan sebagainya. Justin Bieber nggak bakal ngetop dengan lagu Baby-nya, mungkin aja dia mendobrak dunia musik dengan lagu O Holy Night yang diremix. Horror kan?

Setelah mendapat pencerahan itu, saya merasa sedikit lega. Ternyata Tuhan sudah lebih dulu tau masalah keabadian duniawi ini. Itu sebabnya, Dia membuat rumus keabadian duniawi = 0. Karena tidak ada keabadian di dunia ini, maka kehilangan akan masih tetap ada. Losing is a part of seasons’ thing. Tapi, hilang sesuatu bakal diikuti dengan munculnya sesuatu yang baru. Kesedihan memang turut jadi rombongan arak-arakan kehilangan, tapi seperti hukum semesta yang sudah paten, musim dingin pun akan beralih ke musim semi, maka ada masanya kesedihan akan beralih ke kebahagiaan. The hardest part of belonging is losing, tapi losing is the new beginning of everything.

 

Close your eyes and just pray your way back home
Through your pain as you try to just let go

Come to Me in your hour of darkness
As you know that I’ll be there
Don’t you know
I’ve been waiting for you

Close your eyes and you’ll find you’re not alone
Thru the night I won’t leave you or let go

Come to Me in your hour of darkness
As you know that I’ll be there
Don’t you know
I’ve been waiting for you

Seasons come and seasons go
Sun will shine and flowers grow
Winters come and My heart’s yours
For I will never leave you alone

 

P.S.:

Dan yang pasti, Pencipta semesta sudah ada sebelum semesta ini dijadikan dan akan tetap ada setelah semesta ini lenyap. Kalo kita adalah bagian dari semesta ini, kita pasti turut terlibat di dalam skenario kepemilikan dan kehilangan. Tapi, kalo kita mau tetap pegangan dengan Pencipta semesta, pasti kita juga akan ketularan keabadian kan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s