Book, Life, Mind-ology, Valacirca

Valacirca – 1 : Kitab Jurus Kungfu

Dulu menghujat, sekarang mencinta. Dulu tidak yakin—quality of local untuk non teenlit bagaikan kitab jurus kungfu yang ditulis dengan bahasa hieroglif, diwariskan dalam keadaan lusuh dan lepek, tengiknya minta ampun—sekarang super yakin. Maklum, jaman dulu jiwa masih muda, ilmu masih ala kadarnya, otak lagi malas-malasnya mikir selain gimana menarik perhatian gebetan.

Menjelang dewasa, Metropop jadi idola baru. Selamat tinggal, Teenlit, kau hanya penipu yang meninggikan angan-angan mubazir akan romantisme cinta monyet. Kehidupan adalah pendusta terdahsyat terhadap imajinasi, apalagi yang muluknya keterlaluan. Sayangnya, Metropop lebih kejam ketimbang Si Adik. Fiksinya, bikin dosa berkembang biak. Yang dulunya takut-takut plus malu-malu baca adegan cium pipi, sekarang jadi kecanduan baca adegan cipok bibir. Fantasi makin liar, hidup makin galau karena lagi-lagi dikelabui kenyataan. Belum sempat bertobat, muncullah tante Harlequin dan Chicklit. Makin jadi ini nurani, siap lepas landas ke nirwana semu langit ketujuh.

Untung ada malaikat. Meskipun tak kasat mata, bimbingannya bisa dirasa dan dilakukan. Dibawanyalah ia ke jalur thriller dan mystery. Asal jangan ke lorong horror, dia suka-suka aja. Hidup memang sulit ditebak. Salah satu kawan terbaiknya adalah ratu Inggris. Bukan Elizabeth tentunya, karena julukan ‘ratu Inggris’ ini maksudnya wanita yang jago bahasa Inggris. Dulu dia terbengong-bengong waktu tahu si ratu Inggris suka baca novel berbahasa Inggris. Bukan sekedar Harlequin atau Chicklit, tapi Harry Potter sekaligus! Dia terhuyung. Kitab Harry Potter kelewat tebal. Kitab Suci aja belum khatam, gimana mau baca kitab sihir? Bahasa Inggris pula!

Tapi, yah, seperti yang sudah dikatakan tadi, hidup memang penuh kejutan. Meskipun belum tertarik dengan kitab sihir itu, setidaknya dia sudah berani melotot ke Sherlock Holmes, Rosie Project, dongengnya Rick Riordan, Colorless-nya Haruki Murakami, dan tak ketinggalan Silmarillion-nya Tolkien—yang bikin gegar otak—entah kapan akan dilanjutkan. Tadi dia sempat memegang Silmarillion, dikira niat lanjut, ternyata cuma nyomot satu kata yang akhirnya jadi judul utama tulisan ini. Artinya adalah the crown of seven mighty stars, Sickle of Valar. Jangan tanya apa kolerasinya dengan tulisan ini, dia sendiri tidak tahu. Tuhan pun sepertinya tidak.

Setelah keluyuran sampai Inggris, akhirnya ia lelah. Cairan otaknya terasa punah disedot kata-kata dari Murakami, tapi hatinya perlu hiburan lingustik alami karena bahasa program yang dipantenginnya setiap hari bagaikan piranha rakus yang menggerogoti setiap bagian tubuh. Jerawat tak kunjung tobat, kepala nyaris botak. Dia sekarat.

Malaikat lagi-lagi datang di saat yang tepat. Kitab Jurus Kungfu berbahasa hieroglif itu tau-tau jatuh ke tangannya. Agak ilegal alurnya, tapi dia sudah kebal dengan dosa itu. Daripada mengurangi sikap bakti ke orang tua karena dana APBD (Anggaran Pembelanjaan Bulanan Diri) dialokasikan untuk barang-barang sekuler, penyelundupan pun didewakan. Sekalian uji coba kualitas dan kemampuan baca. Rugi-cilaka tiga belas kalau main terjang beli buku legal dari toko dan ternyata tidak cocok. Seperti kasus Hamlet yang akhirnya teronggok jadi tatakan mouse setelah sekian menit dilepas dari plastik pembungkusnya.

Kembali ke Kitab Jurus Kungfu. Salah dua temannya pernah pamer kitab ini ke sosmed. Sekarang ia tahu, esensi pamer barang memang lumrah. Anggap saja sebagai apresiasi atau ekspresi cinta platonik yang agung.

Kitab Jurus Kungfu itu berjudul Supernova : Petir. Sekali baca, ia menggelepar kesenangan. Sakaw nikmat oleh permainan kata dan alur. Kitab ini mengandung ganja.

Kitab kedua pun muncul. Judulnya Supernova : Akar—prelude si Petir. Mampuslah ia karena eyegasm kebablasan. Klimaksnya waktu si Akar kesakitan menghadapi kematian. Dia ingin menangis. Penulisnya memang kejam. Dasar penulis sialan. (Eh, ini pujian! Sumpah!)

Dulu menghujat, sekarang mencinta… dan dihujat. Hujatannya berbentuk rasa takut kepala puyeng waktu membaca kitab itu, tapi sekarang kepala puyeng adalah hiburan sejati pertanda dia hidup. Dia cinta semesta di kitab itu. Mimpi terselubungnya semakin bebas mengikrarkan niat supaya bisa jago kungfu juga. Tidak tahu malu, memang.

Sampai akhirnya, kitab itu melempar hujatan balik, tawa garing dalam sunyi : “Otak lu emang pas-pasan. Tapi jadi ketagihan, kan?”

 

Selesai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s