Book, Valacirca

Valacirca – 2 : Si Cover Elegan

Awal mulanya seperti drama. Matanya tau-tau bertemu pandang dengan cover putih nan elegan—mirip sampul buku-buku psikologi yang dioplos ilmu kedokteran. Amazed moment dengan Disruption-nya Rhenald Kasali beberapa menit yang lalu segera terlupakan. Benda ini membuat matanya berbinar.

“Orang ini lagi,” katanya sambil tersenyum, ingat momen menyenangkan sewaktu menghirup tulisannya yang lain yang berbau arsitektur. Tangannya terluncur ke rak, menculik satu yang sudah dilucuti plastiknya.

Satu kalimat membuatnya tersenyum. Jari-jarinya mengusap lembaran lain. Satu kalimat lagi di halaman random. Ia tertawa.

Diletakkannya benda itu kembali ke rak, ingat misi utamanya lebih condong ke acara minang-meminang Sang Guru Besar UI.

Detik selanjutnya dia kembali. Hasratnya meletus ke ubun-ubun. Tangannya heboh ke halaman lain. Matanya fokus ke kalimat-kalimat penghujung. Sialan. Dia tertawa. Lebih keras dari sebelumnya. Masa bodoh dengan orang lain. Ekspresif adalah anugrah, antibiotic gratis untuk mencegah jerawat.

Bulat sudah tekadnya. Tujuan semu ini harus direalisasikan.

Benda itu dipeluk, disayang-sayang dengan telapak tangan. Lalu ia berjalan ke tempat lain dengan segudang sumpah serapah positif di benaknya.

“F (censored)! W. T. F. I’m doing now?” Seolah-olah merampas benda itu dari tempatnya sama nistanya dengan kasus yang dibuat-buat atas alasan penistaan agama yang dilakukan Ahok.

Sebentar kemudian sumpah serapah itu lenyap digantikan any kind of excuse. Yang katanya untuk hiburan lah, untuk belajar lah, biar teknik kungfu-nya makin cemerlang lah…

Sampai di lorong pajangan imut, barulah dia benar-benar ingat tujuan utamanya jauh-jauh hari sebelum mengunjungi tempat itu. KITAB JURUS KUNGFU! Amboy! Kitab itu pasti mengalami disruption yang dilakukan oleh Disruption itu sendiri dalam pikirannya.

Ia berlari mencari komputer, dengan lihai mengetik kata kunci dan… jeng jeng! Kitab Jurus Kungfu masih available!

Dia mencari dan mencari. Hidup memang seputar mencari dan dicari. Kitab Jurus Kungfu berhasil ditemukan. Lama ia menimbang. Si Cover Elegan versus Kitab Jurus Kungfu. Niatnya kemudian terdegradasi di detik-detik terakhir. Benda bersampul elegan-lah yang menang. Don’t judge a book by its cover—fitnah beginian memang lebiih kejam dari kenyataan. Buy a book by its cover lebih ampuh untuk dia yang semi OCD dan perfeksionis.

Setelah meminang Guru Besar UI, dia bergerak ke area transaksi supaya dilegalkan urusan serah terima barang. Dicap maling adalah prelude—mimpi buruk sebelum nyemplung beneran ke baskom laknat di neraka lapis Surabaya—eh—lapis tujuh!

Dan, di tempat itu juga ia ingin menangis karena melihat Kitab Jurus Wushu dalam wujud Oxford English Grammar. Label harganya bikin mati terjengkang kalau memaksa mengawinkannya dengan Si Cover Elegan dan Sang Guru Besar.

Lain kali, tepisnya dalam hati. “It’s mayday not payday.”

Sampai di rumah, Si Cover Elegan segera digerayangi. Ia tertawa. Sampai lupa diri rasanya. Sampai paginya ia sempatkan menyapa, Si Cover Elegan sudah beranjak ke gerbang selanjutnya. Tiba-tiba ia kecewa. Merasa dipermainkan dengan munculnya biji jagung di berbagai tempat. Rasanya bergerak, tapi kondisi seperti stagnan. Apa ini yang dimaksud maju-mundur cantik ala Syahrini?

Ia mencoba bertahan. Harapan masih ada. Namun yang selanjutnya ia jumpai adalah biji-biji jagung yang sama. Ia paling tidak suka dengan biji jagung. Giginya yang dulu berlubang selalu menjadi basecamp idaman bagi para biji jagung. Uncomfortable dan bikin ngilu. Dan meskipun gigi-gigi itu sudah diamputasi, ngilunya masih terbayang-bayang kalau dilewati biji jagung. Jadi, sampai Freeport tumbang atau kasus korupsi E-KTP kelar, dia berharap tidak bersilahturahmi dulu dengan biji jagung.

Lalu, kenapa sekarang membahas jagung dan bijinya?

Sahabat super, semua itu hanyalah ungkapan agar tidak dianggap menistakan pihak-pihak tertentu. Ia hanya merasa kecewa. Ia takut dengan karma dan tidak siap kebanjiran karangan bunga. Itu sebabnya ia berusaha sopan menyampaikan aspirasi. Ekspresif adalah anugerah, bukan?

Nasi sudah menjadi kerak, deodorant sudah menggilas ketiak, for the sake of piggy bank debris, ia melanjutkan sunat sampai separuh bagian. Ngilunya semakin menjadi. Detik itu juga ia menyerah. Jurus kungfu-nya yang masih pas-pasan dan agak hina pun rasanya lebih baik dibandingkan Si Cover Elegan yang isinya biji-bijian. Mungkin ia tidak suka dengan beberapa bagian pada semesta itu yang menyebabkan OCD dan perfeksionisnya bangkit dari kubur. Rasanya ingin ia bakar saja benda itu. Tapi sekali lagi, ia takut karma.

Pada akhirnya ia menyesal telah menolak cinta Kitab Jurus Kungfu dan mengejar Si Cover Elegan. Don’t judge a book by its cover—fitnah itu lebih kejam dari kenyataan. Tapi di zaman sekarang, yang sering kejadian adalah fitnah merupakan sampul depan dari kenyataan.

 

Salam sedih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s