Book

Aroma Karsa – Pencuri Segala Aroma

Aroma Karsa

Dari sebuah lontar kuno, Raras Prayagung mengetahui bahwa Puspa Karsa yang dikenalnya sebagai dongeng, ternyata tanaman sungguhan yang tersembunyi di tempat rahasia.

Obsesi Raras memburu Puspa Karsa, bunga sakti yang konon mampu mengendalikan kehendak dan cuma bisa diidentifikasi melalui aroma, mempertemukannya dengan Jati Wesi.

Jati memiliki penciuman luar biasa. Di TPA Bantar Gebang, tempatnya tumbuh besar, ia dijuluki si Hidung Tikus. Dari berbagai pekerjaan yang dilakoninya untuk bertahan hidup, satu yang paling Jati banggakan, yakni meracik parfum.

Kemampuan Jati memikat Raras. Bukan hanya mempekerjakan Jati di perusahaannya, Raras ikut mengundang Jati masuk ke dalam kehidupan pribadinya. Bertemulah Jati dengan Tanaya Suma, anak tunggal Raras, yang memiliki kemampuan serupa dengannya.

Semakin jauh Jati terlibat dengan keluarga Prayagung dan Puspa Karsa, semakin banyak misteri yang ia temukan, tentang dirinya dan masa lalu yang tak pernah ia tahu.

Continue reading “Aroma Karsa – Pencuri Segala Aroma”

Advertisements
Book

Aroma Karsa – Part 1

Saya belum sampai masuk tahap pemujaan kepada seorang Dee Lestari untuk saat ini, mengingat buku-buku beliau yang saya beli baru sebatas tiga biji demi memuaskan lapar, plus satu versi digital ilegal yang saya culik dari penampungan file-file haram di internet. Empat judul, yang satu baru sepertiga menuju khatam, saya sudah kesurupan dan merasa harus mencatat mantra-mantra kali ini.

Aroma Karsa sudah saya incar semenjak Dee membuat promosi di Instagramnya. Kebetulan teman saya pernah kepikiran membuat cerita tentang indera penciuman dan parfum, tapi bukannya dia yang overdosis excited, malah saya—yang langsung buat visi-misi kehidupan untuk tahun 2018: memiliki Aroma Karsa. Di hari-hari premiernya, saya harus menahan diri untuk tidak envy kepada para manusia yang beruntung. Juga harus menahan diri supaya kantong tidak menciut karena nyawanya disedot toko buku. Akhirnya setelah sebulan lewat, saya baru bisa mengadopsi anak ini dan menikmati momen menimang-nimang dirinya dalam pelukan logika dan imajinasi.

Seperti dua buku favoritnya—yang tentu saja saya beli karena saya suka dan mendapat review bagus dari orang-orang, Dee memulai mega-sawah-nya dengan benih karakter-karakter yang kuat. Bukan sekedar karakter A yang punya masa lalu kelam atau Si B yang kepo nggak ketulungan yang kemudian mengalami metamorfosis dari telur menjadi ulat, menjadi kepompong, lalu kupu-kupu. Kemudian siklus si kupu selesai karena takdir atau apalah—lebih dari sekedar itu. Dee sejak awal sudah menjadikan Si Kupu-kupu sebagai mahkluk paling indah sekaligus mengerikan karena berhasil menjangkiti otak para pembacanya dengan virus ingatan. Lepas dari semua kehebatannya, mahkluk itu tetaplah kupu-kupu yang bakal hilang saat ketiup badai. Eksistensinya lenyap, tapi jiwanya seperti hantu yang berlabuh pada akherat berupa benak si pembaca. Betapa kejamnya novelis satu itu.

Belum ada satu karakter yang saya benci selama membaca 200an lembar halaman Aroma Karsa. Mungkin cuma dosis preferensi, wajar karena tokoh sentralnya dikelilingi banyak tokoh lain. Untuk tiga ksatria di Aroma Karsa, saya suka semuanya. Tapi juaranya baru Jati. Mungkin sebentar lagi Suma. Atau Raras yang jago di strategi, karena dia duluan hidup ketimbang Jati dan Suma. Belum lagi Arya, yang sejak awal kemunculannya sudah saya kasihani karena bakal tergusur kegagahan Jati di mata Suma, meskipun mereka adalah pasangan kekasih sampai di halaman 200an itu. Entah apa yang akan terjadi pada Arya dan Suma, kalau saya yang menulis, sudah pasti Arya bukan happy ending-nya Suma. Yang smart and powerful pasti menang, seperti hukum alam. Tapi Arya bukan tokoh yang patut dibenci. Dia bagaikan ibu peri yang mengubah Jati menjadi Cinderella versi pria.

Membaca Aroma Karsa seperti menyelami aroma parfum yang tidak terlalu asing, namun masih banyak kejutan yang belum menampakkan diri. Ada aroma yang lembut, ada yang menggelitik, ada yang kuat—andai saya sepintar Jati, pasti sudah saya sebutkan senyawa-senyawa kimia yang bisa mewakili perasaan sebagai personifikasi kesan saat membaca buku ini.

Di sela-sela antusiasme menyambut misteri lebih dalam lagi, terbesit rasa yang meminta diri ini dikasihani saat mengingat apa jadinya kalau ceritanya sudah sampai di halaman akhir.

Sampai detik ini, saya masih yakin kemampuan penciuman saya jauh di bawah Jati dan Suma. Semoga sampai akhir pun demikian, karena takutnya saya mulai menyamakan diri dengan mereka yang merupakan pertanda delusi dan baper tingkat mahatinggi. Kalau sudah begitu, repot mau balik lagi jadi manusia yang (lumayan) normal.

Makasih Dee. Saya mau lanjutin dulu tenggelam ke dalam dunia Jati-Suma.

Book, Valacirca

Valacirca – 2 : Si Cover Elegan

Awal mulanya seperti drama. Matanya tau-tau bertemu pandang dengan cover putih nan elegan—mirip sampul buku-buku psikologi yang dioplos ilmu kedokteran. Amazed moment dengan Disruption-nya Rhenald Kasali beberapa menit yang lalu segera terlupakan. Benda ini membuat matanya berbinar.

Continue reading “Valacirca – 2 : Si Cover Elegan”

Book, Life, Mind-ology, Valacirca

Valacirca – 1 : Kitab Jurus Kungfu

Dulu menghujat, sekarang mencinta. Dulu tidak yakin—quality of local untuk non teenlit bagaikan kitab jurus kungfu yang ditulis dengan bahasa hieroglif, diwariskan dalam keadaan lusuh dan lepek, tengiknya minta ampun—sekarang super yakin. Maklum, jaman dulu jiwa masih muda, ilmu masih ala kadarnya, otak lagi malas-malasnya mikir selain gimana menarik perhatian gebetan.

Continue reading “Valacirca – 1 : Kitab Jurus Kungfu”

Book

​Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage

It’s my first time read a novel by Haruki Murakami. I’m a kind of human who magically interested in some works of Japanese writers though countless time I felt annoyed after read their books—because there’s no such happy ending inside their minds, maybe, or the essence of an art is basically another way to express a sadness, I don’t know. They create some manuscripts with a promising beginning and unanswerable ending yet I find it beautiful and unique. So… here I am. Trying to make a review about a beautiful one from Murakami sensei.

Continue reading “​Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage”

Book

The Rosie Project – When Science Can’t Hold Feelings

I’m a bibliophile, especially novels. Sometimes I read fantasies, mysteries, but I also attached to romances. One day, I found about The Rosie Project—which the author, Graeme Simsion, was a special guest at a writer festival in Bali. I wasn’t there but quite Continue reading “The Rosie Project – When Science Can’t Hold Feelings”

Book, Mind-ology

Petir

Ini kali pertama saya menulis resensi buku di blog–atau mungkin sudah pernah sebelumnya tapi saya lupa?

Dan… sebetulnya, nggak bisa disebut resensi juga karena semua ini hanya opini saya pribadi yang saya tuliskan tanpa peduli dengan kaidah penulisan resensi ala orang-orang keren di blog lain. Saya bahkan lupa gimana kaidah penulisan resensi versi pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dulu… Pokoknya saya mau nulis kesan-kesan saya selama membaca sebuah buku. Titik.

Continue reading “Petir”