Life

​Letter To Myself

Dearest, Shin.
Pertama-tama, jangan merasa tolol waktu kamu baca ini. Kedua, jangan merasa tolol karena pernah menulis ini. Ketiga, kamu memang sudah tolol, jadi tidak perlu ditololkan lagi. 😀

Ini surat pertama saya, semoga lain waktu kita bisa terus menulis surat.

Karena ini pertama kali, saya nggak punya topik khusus untuk dibahas sama kamu. Saya cuma mau menyampaikan beberapa patah kata. By the way, kenapa harus ‘patah kata’, bukan ‘sehat kata’ atau ‘kuat kata’?

Oke, mari kita mulai. 

Dear Shin, terima kasih karena menjadi pribadi yang impulsif. Jangan merasa bersalah karena sering bertindak spontan. Thanks to me yang kemudian menyadari kalau kamu punya bumbu impulsif di dalam diri kamu. Not a bad thing meskipun kadang-kadang kita suka kewalahan dengan akibat yang muncul gara-gara tindakan itu. Apalah arti hidup kalau selalu straight to the law macam ‘echo “hello world”;’ di dalam pengulangan for sebanyak seratus kali. We are a living creature, udah dari sononya membawa bibit ‘sengklek’ seperti yang sudah diinkubasikan oleh Adam dan Hawa sejak mereka di Taman Eden. Kita bukan Yesus yang penurut, karena hidup ini tuntutannya hanya menjadi serupa diriNya, bukan menjadi diriNya. (Oh, hooray karena kita nggak harus dicambuk sambil bawa-bawa kayu salib). Percayalah, Yesus pun sering terhibur dengan tingkah impulsif kita.

Bumbu impulsif ini yang membawa kita ke posisi saat ini. Bumbu impulsif ini juga yang membuat saya ingin menulis surat ini untuk kamu. Kalau kamu nggak impulsif, kita nggak akan kenal dengan Si Percikan Api yang—agak nyusahin itu (;p). Bener kan kalo dia nyusahin? Sekaligus gemesin! Okeh, thanks to Si Percikan Api. Banyak hal yang akhirnya bisa saya ngerti tentang kamu—kita, dan betapa selama ini kita kurang saling memahami.

Apa yang selama ini kita yakini tentang ‘kita’ nggak sepenuhnya salah, dan nggak semuanya benar. Kita sering merasa yang paling bijak di antara jiwa-jiwa lain. Kita merasa tahu betul siapa kita dan apa yang kita butuhkan. Kita merasa tahu betul apa yang mereka butuhkan. Sebisa mungkin saya bilang kalau ini nggak sepenuhnya salah (supaya kamu nggak down) dan sengaja saya jujur bilang motif barusan karena kita harus saling terbuka, mengerti keadaan masing-masing dan tetap saling mendukung. 

Kalau selama ini kamu merasa paling benar, mulai sekarang buka mata kamu lebar-lebar, dunia di luar sana adalah teka-teki paling misterius yang pernah-sedang-dan akan kamu hadapi. Manusia adalah makhluk yang paling random, unpredictable, magis, dan punya banyak selaput yang menutupi jati diri mereka (duh, sekarang berasa saya sendiri yang sok tahu!). Dan… waktu juga berperan penting dalam setiap keputusan yang dilakukan manusia. Waktu lebih mistis dibandingkan manusia. Nggak perlu bertanya-tanya dan terus mencari tahu, kadang-kadang hidup juga menuntut kita untuk pesimis saat mencari kismis di hujan gerimis. Teka-teki memang menarik. Berhasil menemukan sesuatu yang nyaris mustahil adalah anugerah, tapi jangan sampai kita take all the credits to ourself tentang perkara itu. Semua yang kita terima adalah barang titipan, kenapa kita harus menahan ketika mereka memutuskan untuk pergi?

Dear Shin, kita mungkin sering berpikir A, tapi orang lain berpikir B. Karena perbedaan ini, kita sering merasa frustasi. Padahal selama ini kita ngaku-ngaku pengagum perbedaan. Apalah arti omongan itu kalau kita sendiri ternyata masih dipusingkan dengan perbedaan? Pikiran kita seringkali sempit. Lupa kalau dunia, manusia dan waktu cuma dihubungkan dengan gravitasi supaya nggak pada kocar-kacir di alam semesta. Selebihnya, mereka adalah perwujudan dari kebebasan. Luas.

Jangan kecewa kalau orang lain berada di jalur yang beda. Jangan kecewa kalau orang lain menyukai sesuatu yang beda. Jangan kecewa kalau orang lain bersikap beda. Kita nggak bisa melakukan apa-apa untuk mengontrol manusia lain sesuai dengan imajinasi dan prinsip yang menurut kita paling benar.

Lalu, jangan terus-terusan nempel ke masa lalu. Jangan terlalu percaya dengan teori dunia. Masa lalu memang mengajarkan banyak hal, tapi bukan berarti masa sekarang dan masa depan adalah hal yang pasti sama dengan masa lalu. Sekali lagi, waktu adalah wujud dari kebebasan. Random. Kalau rumus di masa lalu ibarat 2+2=4, maka di masa sekarang, 2+2 bisa berarti enam, delapan, atau juga nol. Saya yakin, kamu bisa mengerti hal ini. 

Teori dunia memang banyak membantu, tapi nggak selamanya teori-teori itu bisa dijadikan acuan. Mungkin karena mereka yang paling sering bersentuhan dengan kenyataan, tapi bukan berarti kenyataan harus selalu sesuai dengan teori. Kalau demikian, kenapa Tuhan mengadakan banyak mujizat?

Dear Shin, saya suka sifat impulsif kamu. Kalau sekarang kamu sedang belajar menjadi manusia yang ikhlas, saya doakan supaya beneran jadi manusia yang ikhlas. Kamu adalah manusia yang menyenangkan karena mau belajar mengembangkan diri sendiri. Explore banyak hal melalui kejadian-kejadian yang kamu alami. Sekali lagi, situasi ini adalah anugerah. Bisa mengasihi diri sendiri dengan mau belajar banyak hal adalah pengembangan dari kasih berkasta tinggi dari Tuhan. Syukur-syukur kalo kamu akhirnya bisa mengasihi orang lain. 

Mulai sekarang, jangan kuatir dengan keadaan. Jangan terintimidasi dengan situasi. Enjoy your life. Nggak perlu tegang. Kamu bukan Si A. Kamu bukan si B. Kamu bukan Si C. Jangan susah-susah menjadi mereka. Nggak apa-apa kalo kulit kamu nggak semulus Song Hye Kyo. Nggak apa-apa kalo suara kamu nggak sehebat Isyana Sarasvati. Nggak apa-apa kalo kamu masih ngetik ini sendirian sementara di luar sana mungkin Raisa sedang ngeblog ditemani Hamish. 

Apa yang kamu pikirkan belum tentu dipikirkan orang lain. Apa yang kamu sangka buruk, mungkin itu cuma reaksi kejutan yang jarang kamu alami. Jangan kebanyakan mikir yang nggak penting, karena hidup ini memang sebuah ujian jangka panjang tapi dengan standar kelulusan yang berbeda untuk masing-masing orang. It’s okay kalo sekarang kamu lagi agak anti dengan romantisme. It’s okay kalo sekarang kamu lagi berusaha menjadi manusia yang kalem (:p), at least, kamu menemukan diri kamu lagi setelah (mungkin) sekian lama merasa tersesat. 

Oke, itu aja. Sekali lagi, thank you, Shin, karena mau membuka diri terhadap perubahan. 

Be yourself. You’re not a drama queen. Love yourself more.

And I think, that spark will always burns your soul. Api itu nggak akan padam lagi. 

Cheers! Your another side.

(I LOVE YOU)

  

Advertisements
Book, Life, Mind-ology, Valacirca

Valacirca – 1 : Kitab Jurus Kungfu

Dulu menghujat, sekarang mencinta. Dulu tidak yakin—quality of local untuk non teenlit bagaikan kitab jurus kungfu yang ditulis dengan bahasa hieroglif, diwariskan dalam keadaan lusuh dan lepek, tengiknya minta ampun—sekarang super yakin. Maklum, jaman dulu jiwa masih muda, ilmu masih ala kadarnya, otak lagi malas-malasnya mikir selain gimana menarik perhatian gebetan.

Continue reading “Valacirca – 1 : Kitab Jurus Kungfu”

Life

The Hardest Part of Belonging is Losing

Seharusnya saya memikirkan kata-kata dan tulisan indah untuk postingan lain, tentang teman saya, Si Pengendali Udara, yang sebentar lagi akan lamaran. Karena sudah waktunya dia diberi ‘jatah’ kata-kata sanjungan karena dua ekor yang lain sudah kenyang termehek-mehek (kata mereka sih begitu! Oh, si Jojos juga belum!). Continue reading “The Hardest Part of Belonging is Losing”